VISAO MISAO OBJECTIVO HAKSESUK BOLA FH KKN HOME FH LPV ARTIGOS FH MUZIKA LIA MENON FH RESPONDE
Bloku Unidade Popular Associação Popular Monarquia Timorense Kmanek Haburas Unidade Nasional Timor Oan Partido Esperança da Pátria Partido Socialista de Timor Partido Desenvolvimento Popular Congresso Nacional para a Reconstrução de Timor-Leste Partido Republicano União Democrática Timorense Partido Democrata Cristão Partidu Movimento Libertasaun Povu Maubere Partidu Libertasaun Popular Partido Democratico União Nacional Democrática de Resistência Timorense Partido Unidade Desenvolvimento Democrático Partido Timorense Democratico Frenti-Mudança Partido Social Democrata Centro Ação Social Democrata Timorense Partido do Desenvolvimento Nacional Frente Revolucionaria de Timor-Leste Independente

'They will decide': Timor-Leste prepares for parliamentary election

Espelho da Realidade
TIMOR-LESTE



Interview with Fernando Lasama de Araujo: On the road to democracy, where the streets have no name


Lei Bandu Labarik Labele Involve Iha Kampaha
Promesa Parpol Fó Perigu Ba Povu
Sukit-malu mak "interesse nacional"
Young Voters Will Decide Timor-Leste's Parliamentary Election
Labele iha kampnha mak hakarak sai salvador povu
Mestri demokrasia sira kontra fali demokrasia
VIOLASAUN BA LORON SILENSIU
Não creio que TMR possa vir a ser o Macron de Timor

domingo, 30 de julho de 2017

 ELPAR 2017: Mariano "Assanami Sabino deklara iha Aileu: Partido Democratico reconhece no valoriza Timor oan sira nebe uluk husu suaka politik/azilu politiku nudar funu nain no lori funu ba rai seluk. Sira precisa reconhecimento husi estado."

domingo, 16 de julho de 2017

Menjamin Keselamatan ibu Saat Melahirkan, Mengapa Terjadi Kematian?

Menjamin Keselamatan ibu Saat Melahirkan, Mengapa Terjadi Kematian?


Oleh:
Santana Martins, L.DC, Mahasiswa Program Magister Public Heatlh UNPAZ*) DR. Ina Debora Ratu Ludji, SKp., M.Kes**)

Timor-Leste merupakan negara baru yang sepenuhnya mendapatkan kemerdekaan pada tanggal 20 Mei 2002, dimana secara internasional telah diakui oleh badan Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa(PBB) dimana pada saat itu melalui Misinya di Timor-Leste yaitu United Nation Mision in East Timor-(UNAMET) dari Tahun 1999 untuk memfasilitasi proses Referendum bagi Rakyat Timor-Leste untuk menentukan kemerdekaan atau memilih untuk tetap dibawah naungan negara Republik Indonesia yang dulunya dikenal dengan nama Timor-Timur.

Timor-Leste secara geografis yang menempati separuh dari pulau Timor dengan luas 14,610 km persegi terbagi atas 13 distrik, 67 sub-distrik, 442 desa (suco) dan 2336 dusun (aldeias). Timor-Leste berpenduduk 1,015,187 pada tahun 2006. Lima puluh lima persen penduduk bertempat tinggal di wilayah tengah, 20% di wilayah barat dan 25% di wilayah timur Timor-Leste. Dua kota besar adalah Dili dan Baucau yang dihuni sekitar 29% penduduk, sedangkan 70% tinggal di daerah pedesaan. Terdapat 16 bahasa daerah, namun bahasa utama yang digunakan adalah Tetum.

Berdasarkan data Total Fertility Rate (2009) setiap ibu mempunyai rata-rata 7 anak, dan sebagai angka tertinggi di dunia. Dengan tinggi angka Total Fertility Rate merupakan faktor yang menunjukkan estimasi bahwa di Timor Leste dari 100,000 kelahiran hidup 660 meninggal, angka ini menunjukkan tingginya angka kematian di ASIA di ikuti dengan Negara Afganistan. Secara global ibu yang meninggal ada hubungan dengan proses persalinan, persalinan, perdarahan segera, setelah melahirkan infeksi dan susah melahirkan, komplikasi dari aborsi yang tidak aman dan hipertensi.

Di Negara Timor Leste dengan Populasi yang kecil menggunakan metode kontrasepsi, banyak wanita yang hamil tidak terencana, dengan begitu praktek aborsi yang tidak aman merupakan resiko atau masalah kesehatan reproduksi yang berkelanjutan. Kurang pemahaman tentang kontrasepsi di Timor-Leste menambah masalah. Berdasarkan data Demografi 2003, 1 diantara tiga ibu memiliki pemahaman tentang metode keluarga berencana dan dari 30% laki-laki yang diwawancara mengetahui tentang metode keluarga berencana. Diantara laki dan wanita sakit yang memiliki pengetahuan tentang kontrasepsi, dan ini akan menyebakan banyak wanita yang hamil di luar perencanaan, dan meningkatkan banyak wanita yang melakukan aborsi yang aman. Dengan demikian perlu berupaya untuk meningkatkan metode keluarga berencana, ini bukan untuk mengurangi aborsi yang tidak aman, tetapi untuk memperbaiki kualitas hidup dan mengurangi angka kematian ibu sangat tinggi.

Dan jika kehamilan tak terencana ini terjadi resiku untuk ibu hamil dan juga bayi akan merupakan masalah yang dihadapi terutama kapasitas intelektual untuk mengambil keputusan.

Begitu juga untuk mencapai tujuan Millenium Development Goals (MDGs) pada tujuan ke 5 untuk memperbaiki kesehatan ibu, melalui kementeriaan kesehatan Timor-Leste, yang berupaya memperbaiki sistem pelayanan kesehatan dengan itu bisa menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan. Melalui perencanaan dan strategi yang berfokus pada tujuan ke 5 MDGs membutuhkan data yang pasti dan aktual masalah yang berhubungan dengan kesehatan dan pelayanan kesehatan ibu, akan tetapi adanya situasi sosial budaya dan agama di Timor-Leste hanya ada sedikit informasi tentang praktek aborsi.

Sustainable Development Goals merupakan kelanjutan program Millennium Development Goals yang dibuat Perserikatan Bangsa-Bangsa. Salah satu target yang harus dicapai adalah menurunkan angka kematian ibu dengan kesetaraan gender terhadap kesehatan seksual, reproduksi dan hak-hak reproduksi.

Di Timor-Leste masalah kesehatan yang dihadapi oleh seorang ibu hamil yaitu kadang sangat sulit didalam mengambil keputusaun demi keselamatan ibu dan bayi. Dan masih menjadi tantangan dimana ada berbagai faktor yang sangat menentukan bagi seorang ibu untuk menentukan dimana mereka harus bersalin, dan bagaimana untuk memutuskan agar cepat pergi ke fasilitas kesehatan begitu juga faktor intervensi keluarga yang masih begitu tinggi.

Padahal Kehamilan bagi kebanyakan pasangan suami istri merupakan masa yang sangat ditunggu-tunggu. Namun, ada pula kehamilan yang merupakan hal yang sangat dihindari, dengan berbagai alasan yang bisa diterima maupun tidak, misalnya alasan kesehatan, keuangan dan mungkin karena pasangan tersebut belum terikat perkawinan yang sah, sehingga kadang-kadang memutuskan untuk melakukan aborsi. Disadari atau tidak, perempuan sebenarnya memiliki hak penuh untuk hamil atau tidak hamil, karena perempuanlah nantinya yang bertanggung jawab atas janin yang dikandungnya dan melahirkannya.

Namun demikian, kenyataannya masih banyak perempuan yang kurang paham mengenai hak ini, sehingga ia beranggapan bahwa perempuan “wajib hamil” atau “tidak hamil” itu untuk suami dan negara. Dengan kata lain, kehamilan diatur menurut kepentingan laki-laki dan politik. Contohnya masih sering kita dengar bahwa si A diceraikan oleh suaminya karena tidak bisa hamil. Lalu ada juga kisah bahwa dengan adanya program pemerintah mengenai keluarga berencana, yang pada jaman dulu dan mungkin juga sampai sekarang, masih ada yang mengartikan sebagai “larangan hamil” jika telah memiliki anak lebih dari 2 atau 3 anak. Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa, dari sejak perempuan hamil sampai dengan pasca melahirkan harus diberi hak yang lebih karena dari perempuanlah manusia-manusia di dunia ini terlahir. Bahkan ada pepatah yang mengatakan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu. Untuk itu, perlindungan terhadap perempuan, khususnya pada saat hamil sampai dengan setelah melahirkan baik oleh pemerintah, masyarakat, keluarga dan suami adalah “wajib” adanya. Dan ketika telah hamil dan mau melahirkan mak sebagai wanita memiliki hak-hak manusia yang sebenarnya ia harus memutuskan sendiri tanpa harus menunggu keputusan dari keluarga, walaupun keluarga hanya fokus pada konsultasi agar keputusan yang diambil lebih cepat. Hal ini untuk menjamin keselamatan ibu dan anak dan sebernanya keselamatan pada saat kritis tersebut harus di ambil secara cepat dan tepat, dan juga kepada pihak suami dan keluarga juga harus mendukung agar proses ini berjalan lebih lancer dan cepat.

Disamping masalah yang disebutkan diatas ada faktor penting penyebab kematian ibu hamil yang sebenarnya kita bisa mencegahnya yaitu Penyebab Langsung dan penyebab tidak langsung.

Penyebab langsung seperti;
  1. Pendarahan turut menjadi salah satu penyebab terbesar angka kematian ibu. Pendarahan dapat terjadi akibat beberapa hal dan mengancam ibu pada setiap fase kehamilan. Salah satu penyebab yang dapat terjadi pada fase trimesteral, seperti situasi plasenta yang menutup jalan lahir (placenta previa) dan lepasnya plasenta dari dinding rahim (solutio placenta).
  2. Eklampsia adalah gejala kejang yang terjadi pada masa kehamilan. Kejang ini disebabkan oleh tekanan darah tinggi (hipertensi) yang terjadi selama masa kehamilan.
  3. Infeksi menjadi faktor terbesar lainnya yang menyebabkan kematian ibu. Infeksi dapat terjadi semasa kehamilan ataupun pada fase persalinan. Keduanya membawa resiko yang sama pada ibu. Ibu yang mengidap penyakit seperti tuberkolosis ada baiknya memeriksakan diri ke dokter sebelum masa persalinan. Penyakit ini dapat mempengaruhi perkembangan janin dan menggangu proses persalinan pada ibu hamil.

Penyebab tidak langsung
  1. Pendidikan –Pendidikan ibu berpengaruh pada sikap dan perilaku dalam pencapaian akses informasi yang terkait dalam pemeliharaan dan peningkatan kesehatan ibu. Masih banyak ibu dengan pendidikan rendah terutama yang tinggal di pedesaan yang menganggap bahwa kehamilan dan persalinan adalah kodrat wanita yang harus dijalani sewajarnya tanpa memerlukan perlakuan khusus (pemeriksaan dan perawatan).
  2. Sosial ekonomi dan sosial budaya yang masih rendah –pengaruh budaya setempat masih sangat berkaitan dengan pengambilan keputusan ibu dalam upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan ibu. Contoh: Kultur Timor-Leste biasa mengutamakan kepala keluarga untuk makan terlebih dahulu atau makan di meja(bergizi), dan ibu hamil biasa makannya di dapur. Pada hal ini sebaliknya harus terjadi karena makanan yang sedianya untuk ibu hamil yang seharusnya mengandung gizi tinggi oleh karena Janin yang ada didalam Rahim ibu yang selanjutnya akan mengkonsumsi. Hal tersebut terjadi dikarenakan beberapa faktor yang saling berkaitan, mulai dari masalah diskriminasi gender yang sangat mengakar pada budaya, interpretasi agama, juga masalah lemahnya koordinasi antar sektor pemerintah terkait dalam menanggulangi masalah tersebut. Disamping terdapat mitos-mitos seputar peran perempuan pada umumnya dan peran ibu melahirkan pada khususnya, masalah gizi buruk yang dialami oleh perempuan akibat budaya makan yang mendahulukan laki-laki menjadi kendala besar dalam upaya penurunan angka kematian ibu ketika melahirkan.
  3. Faktor lain dari faktor tidak langsung adalah; Terlalu muda hamil (batasan reproduksi sehat 20 – 35 tahun); Terlalu tua (kehamilan berisiko pada usia di atas 30 tahun); Terlalu sering (jarak ideal untuk melahirkan: 2 tahun); Terlalu banyak (jumlah persalinan di atas 4) data Timor-Leste menunjukan angka kelahiran rata-rata ibu adalah 7-8 anak.
  4. Faktor Tiga (3 T) terlambat yang juga mendukung kematian ibu adalah

  • Terlambat mengambil keputusan sering dijumpai pada masyarakat kita, bahwa pengambil keputusan bukan di tangan ibu, tetapi pada suami atau orang tua, bahkan pada orang yang dianggap penting bagi keluarga. Hal ini menyebabkan keterlambatan dalam penentuan tindakan yang akan dilakukan dalam kasus kebidanan yang membutuhkan penanganan segera. Keputusan yang diambil tidak jarang didasari atas pertimbangan factor social budaya dan factor ekonomi.
  • Terlambat dalam pengiriman ke tempat rujukan keterlambatan ini paling sering terjadi akibat factor penolong (pemberi layanan di tingkat dasar). Hal ini bisa terkait dengan faktor pengambilan keputusan yang kadang lama.
  • Terlambat mendapatkan pelayanan kesehatan keterlambatan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan merupakan masalah di tingkat layanan rujukan. Kurangnya sumber daya yang memadai, sarana dan prasarana yang tidak mendukung dan kualitas layanan di tingkat rujukan, merupakan factor penyebab terlambatnya upaya penyelamatan kesehatan ibu.

Harapan untuk Sahabat “Perempuan” di Timor-Leste:

Agar perempuan, khususnya yang sedang hamil sampai dengan pasca melahirkan, mengetahui hak-haknya, karena pada beberapa kasus sering ditemukan, bahwa masih banyak perempuan hamil yang tidak atau belum mengetahui adanya hak-hak yang ada selama dia hamil sampai dengan pasca melahirkan.

Agar orang lain, yaitu pemerintah, masyarakat, keluarga dan terutama suami memberikan hak-haknya, sehingga tercipta suasana yang harmonis, yang pada akhirnya dapat membantu para perempuan yang sedang mengandung dapat merawat janin, melahirkan dan membesarkan bayinya menjadi manusia yang berguna bagi orang tua, agama, bangsa dan negara.

Agar pemerintah, baik pembuat dan pelaksana kebijakan, dapat melaksanakan kewajibannya secara komit dan prioritas, sehingga tercipta suatu perlindungan terhadap perempuan sejak mereka hamil sampai dengan pasca melahirkan terutama keselamatan dan kesehatan ibu tersebut.

Semoga !!!!!!

Keterangan

*) Mahasiswa Program Pasca Sarjana Universidade Da Paz (UNPAZ) Dili- Timor Leste
**) 1. Dosen Tamu Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) UNPAZ- Dili- Timor Leste
2. Dosen Tidak Tetap Program Pasca Sarjana Universitas Nusa Cendana (UNDANA) Kupang Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat
3.Dosen Tetap Politeknik Kesehatan Kemenkes Kupang, Jurusan Keperawatan


domingo, 9 de julho de 2017

Observasaun ba Eleisaun: Presiza ka lae forma Joven Timor-Leste sira ho militár obrigatóriu?

Observasaun ba Eleisaun: Presiza ka lae forma Joven Timor-Leste sira ho militár obrigatóriu?

*Juvinal Dias

facebook.com/juvinal.inasio
Iha planu militár Timor-Leste “Força 2020” nian, iha Parte I kona-ba Strategic Environment mensiona hela katak restruturasaun forsas armadas tenke orienta ba iha rekerimentu atu moderniza no utiliza fasilidade sira ne’ebé iha ho efisiente. No kontinua mensiona iha Planu Estratéjia Defeza nian katak sei hala’o Militár Obrigatóriu ho tipu “konskrisaun” nudár opsaun ida entre opsaun seluk atu halao treinamentu báziku militar no introdus étika patriota ba forsa regular sira.

Bainhira Prezidente anterior Jenerál Taur Matan Ruak eleitu iha tinan lima liu ba, militár obrigatóriu sai tiha asuntu prinsipál ida entre asuntu seluk ne’ebé nia hakarak implementa. Iha enkontru lubuk ne’ebé Gabinete Presidensial TMR nian organiza iha Palacio Ai-tarak Laran hodi rona no diskute vantajen no dezvantajen hosi militár obrigatóriu ne’e ba futuru Timor-Leste. Iha objetivu tolu prinsipál hosi servisu militár obrigatóriu ida ne’ebé hakarak implementa, mak hanesan atu lori joven sira ba servisu defeza nasionál, kria disiplina nasionál no nudár solusaun ba redusaun dezempregu.

Ho ha’u nia koñesimentu uitoan, ne’ebé ema balu dala ruma konsidera nudár hanoin ne’ebé “jerál demais”, ha’u hakarak fó ha’u nia pontu observasaun balu ba polítika ida ne’e. Ne’e dala ruma normal tanba ha’u laiha títulu akadémiku ida iha area militár, istória, polítika, ekonomia no sosiál, inklui limitasaun ba literature sira. Maibé, ha’u espera no PREFERE katak artigu ida ne’e bele sai tiha baze ba debate ida entre kolega sira iha PLP ho kolega sira seluk.

Fila fali ba asuntu, maske Militár obrigatóriu ne’e ko’alia hela durante Prezidente TMR nia mandatu, maibé ikus mai labele implementa tanba laiha planu hosi Governu. Fundasaun Mahein iha nia relatóriu ida iha 2013 hateten Introdusaun programa Sidadania Sívika Patriota (ne’ebe introduz hosi Palacio Presidensial) ne’e hases ona kompetênsia Governu nu’udar orgaun exekutivu ne’ebé iha poder tomak hodi define polítika defeza ba Timor-Leste ilustra hela katak planu ne’e labele realiza bainhira la hahu hosi Governu.

Maske nune’e, ikus-ikus ne’e sai tiha debate ida tan hafoin Partidu Libertasaun Popular (PLP) ne’ebé lidera hosi Maun Boot Taur Matan Ruak inklui tiha iha nia manifesto polítika no sai tiha kompromisu polítika durante kampaña ba eleisaun jerál 2017 ida ne’e.

PLP iha nia Manifesto polítiku kona-ba area integrasaun Juventude nian ba nia programa eleitorál no governasaun nian, tau militár obrigatóriu nudár “area urjente” ida entre area konsiderasaun tolu katak “Joven ida-idak tenke iha misaun ida iha moris. Sira tenke hetan orientasaun atu iha objetivu sira-ne’ebé konkretiza sira-nia mehi. Nune’e, iha aspetu esensiál lima atu garante katak joven sira ohin loron nian sei sai ema responsável iha loron aban, dezignadamente mak: formasaun superiór no formasaun tékniku-profisionál, servisu síviku, servisu militár obrigatóriu, insersaun iha merkadu servisu, formasaun síviku-patriótika, brigada sira atu kombate hamalaha no desnutrisaun, degradasaun meiu-ambiente, analfabetismu, no seluk-seluk tan.”

Tuir istória mundu nian, militár Obrigatóriu ne’e akontese ona dezde iha tempu sira antes Kristu nian. G.T. Mavrogordatos iha nia hakerek ida ho títulu CITIZENSHIP AND MILITARY OBLIGATION IN CLASSICAL ATHENS: THE ANOMALY OF THE METICS hateten katak iha Grésia Antigo nian, militár obrigatóriu hahú ona iha Athena tempu ne’ebá. Maske iha tempu ne’ebá, ema sira ne’ebé mai hosi METICS ka sira ne’ebé la’o rai iha Athena ne’e konsidera nudár klase sosiál ki’ik tanba laiha sidadania ofisiál ba Athena, maibé tanba nesesidade ba funu halo ema orijen sira iha Athena tenke presiza sira hodi ba kaer ró funu sira ka atu defende sira nia sidade. Ema METICS sira ne’ebé ba halo funu ne’e sei hetan prezente hodi hetan sira nia sidadania iha Athena.

Paul Ruschmann, J.D, iha nia livru MANDATORY MILITARY SERVICES konta sai kona-ba istória importánsia hosi militár obrigatóriu iha Estadus Unidus durante funu sivíl, funu iha Vietnam no funu iha Afghanistan no mós durante periodu konfrontasaun ho Uni Soviet. Funu sira ne’ebé Amerikanu sira envolve halo tiha Governu no Kongresu tenke kria, hamoris fila fali sira nia lei kona-ba servisu militár obrigatóriu nian. Iha Fransa, Funu mundiál dahuluk nian mós halo Napoleon tenke halo militár obrigatóriu ida ne’ebé bele halo nia forsa armada nian sai barak no forte liu tan ba funu konvesional iha momentu ne’eba. 

La’ós sira ne’e de’it, iha nasaun sira barak mak iha tipu militár obrigatóriu oi-oin ne’ebé to ohin loron sei iha, hanesan Israel, Korea du Súl, Singapore ho nasaun sira seluk tan. Funu iha Palestina, no konfrontasaun ho nasaun Arabia sira, poténsia konflitu iha Peninsula Korea, istória konfrontasaun ho nasaun viziñu sira no seluk tan sai tiha razaun ba haforsa nasaun sira ne’e nia forsa armada.

Indonézia iha nia lei rasik, maibé laiha relatóriu ida ne’ebé justifika katak lei ne’e implementa. Maske nune’e, la’ós segredu katak Indonézia iha guarda sivíl lubuk ne’ebé harii hosi militár Indonézia, koñesidu ho naran PANSWAKARSA ba servisu “bela negara” ka “patriota” atu fó apoiu ba interese militár sira nian liu-liu iha area konflitu militár, polítiku no sosiál nian. Durante okupasaun Indonézia nian, GADAPAKSI, no militia sira seluk nudár forma ida hosi “PANSWAKARSA”.

Nune’e, tradisionalmente, tensaun iha geopolitika rejiaun nian ida halo elites polítiku sira presiza apoiu hosi ema sivíl bai-bain sira, liu-liu joven sira atu ba kaer kilat hodi defende interese funu polítiku sira ne’e nian. Paul Ruschmann, J.D kontinua hateten katak maske militár sira ne’e hetan pagamentu as dala rua kompara ho ida ne’ebé ema bele hetan iha tinan ida maibé nia la’ós servisu atrativu ida ne’ebé bele ganha ema voluntáriu sira atu ba forma forsas armadas ida ne’ebé forte atu ba manán funu.

Hosi referénsia balu iha leten ne’e, ha’u bele hanoin katak ema fó apoiu militár obrigatóriu tanba iha razaun prinsipál rua. Razaun primeiru mak interese hosi polítiku sira, katak konfrontasaun polítika sira ne’e sei bele lori nasaun to iha funu konvensional, no polítiku sira presiza forsa militár ida ne’ebé tenke prontu atu ba oho ka hetan oho. Tanba maioria ema lakohi atu hili dalan ba funu, nune’e dalan ida atu obriga joven sira hodi ba kaer kilat hodi sai patriota no martir ba polítika na’in sira nia interese mak Governu tenke kria rejime ka dekretu ba militár obrigatóriu no fó sansaun ba sira ne’ebé lakohi tama.

Razaun segundu mak hosi persepsaun joven sira, ne’ebé sira nia situasaun bele refere ba istória Grésia antigu nian katak tanba dezempregu, laiha asesu ba moris di’ak, no hakarak atu liberta nia an hosi dominasaun polítika, sosiál no kulturál, nune’e dalan di’ak ba sira atu liberta an mak fó apoiu ba servisu militár obrigatóriu. Militar Obrigatoriu nudar dalan fasil ba juventude sira hodi hetan kampu servisu ida ne’ebe lalais duke ba kole an hatama aplikasaun sira tun sae, maibe ikus mai labele hetan oportunidade ba servisu.

Agora fila fali mai rai laran, presiza ka lae atu Timor-Leste iha nia servisu militár obrigatóriu hanesan oferese hosi PLP? Atu hatan ida ne’e, ita presiza hare asuntu sira barak, hanesan kestaun seguransa no ameasa sira, kapasidade ekonomia estadu no mos implikasaun sira ba sosial nian.

Se ita hare Planu Forsa 2020 nian kona-ba ameasa potensiál mai Timor-Leste, entaun funu naun konvensional mak tenke hetan atensaun, katak Timor-Leste bele aumenta nia kapasidade militar nian atu kontra terorismu, kontra Cyber Crime, tráfiku sira iha fronteira, duke funu konvensional ho nasaun viziñu sira ho Indonezia ka Australia. Nune’e, hare hosi perspetiva ameasa sira, Timor-Leste la presiza iha forsa militar ho kuantidade boot. 

Maluk barak mak deskorda ho hau nia perspetiva. No iha diskusaun ho apoiante PLP sira, “Belun” sira ne’e hare katak militár obrigatóriu la’os atu forma ema sai militar maibe nudár dalan ida ba “formasaun karákter” joven sira hodi sai disiplina no prontu serve no iha kapasidade atu hetan servisu bainhira sira sai ona iha servisu militár obrigatóriu nian.

Pesoalmente, ha’u konkorda ho idea atu “forma” Joven sira, maibé ha’u hanoin katak formasaun ida ne’e labele hasees hosi envolvimentu instituisaun edukasaun sivíl nian. Katak atu hadi’ak disiplina joven sira, Timor-Leste tenke investe maka’as iha setór edukasaun, no tenke hahú hosi eskola primária nian, tau atensaun maka’as ba kurikulu, laboratóriu, biblioteka no profesór/a sira. Timor-Leste iha problema prioridade ba setór edukasaun nian, ne’ebé sempre hetan maizumenus menus hosi 10% kada tinan hosi Orsamentu Jerál Estadu. Loloos elegante liu atu fó hanoin katak ukun na’in sira tenke investe maizumenus liu 30% hosi orsamentu estadu ba setór edukasaun no saúde povu Timor-Leste nian.
Maske iha referénsia lubuk hosi kolega “Belun” sira katak instituisaun militár mak instituisaun ida ne’ebé iha jestaun di’ak, obedese as, no disiplina iha mundu, maibé dala ruma sira haluha katak “karákter rua ne’e kontradikte ba malu. Formasaun militár hanorin membru sira atu iha “obedese komandu, tuir ordem”, no laiha demokrasia, ne’ebé halo nia diferente ho formasaun edukasaun sivíl-popular ne’ebé iha objetivu atu hanorin ema hodi sai kritiku, atu ajuda estudante hodi dezenvolve konsiénsia ba liberdade, rekoñese tendénsia authoritarian, hakbiit nia imajinasaun no liga matenek ho realidade no justisa no demokrasia. Timor-Leste nia Libertasaun Popular durante kontra invazaun ne’e familiar tebes ho prinsipiu edukasaun popular Paulo Freire nian ida ne’e.

Parte seluk, ekonomikamente, implementasaun militár obrigatóriu ida ne’e sei lori hela naha seluk ida ba iha finansa públiku nian tinan-tinan. “Belun” ida hateten mai ha’u hanesan ne’e, “imi ekonomista sira (maske nia hatene ha’u la'os ekonomista por akadémiku), sempre preokupa ba kestaun osan, maibé lakohi preokupa kona-ba kestaun sosiál.”

Hosi artigu ida ne’e ha’u hakarak koko liga militar obrigatóriu ne’e ho asuntu ekonomia ho sosiál. Maske seidauk iha detallu, maibé nudár rekrutamentu “obrigatóriu”, automatikamente besik joven sira ne’ebé iha idade entre 18-25 ou liu (depende ba lei) kada tinan tenke tuir orden ba “formasaun militár” durante periodu balu, ne’ebé iha nasaun balu bele halo labele liu fulan 24 (hanesan iha kazu Myanmar).

Daudauk ne’e, maizumenus joven sira, feto ho mane na’in rihun sanulu resin sia mak tinan-tinan sempre tama iha forsa laboral, no barak hosi sira mak kontinua labele hetan oportunidade iha merkadu laboral. Iha Timor-Leste, maizumenus 33% hosi populasaun ho idade forsa laboral mak bele asesu ba ekonomia formal, no restu sei kontinua moris hosi ekonomia informal ne’ebé sira rasik mak harii atu sustenta sira nia moris lor-loron.

Mezmu programa militár obrigatóriu ida ne’e bele konsege rezolve problema ekonomia no sosiál, espesialmente “dezempregu” no “indisipliner” sira ohin loron ne’e. Maibé “empregu no disiplina” hosi konskrisaun ne’e sei kontinua ba tempu naruk bainhira Timor-Leste iha ekonomia ida ne’ebe forte. Timor-Leste presiza kampu servisu sira ne’ebe barak atu bele absorve “alumni” militar obrigatóriu sira bainhira sira reintrega ona ba iha vida sivíl. Se laiha kampu servisu ba sira, keta mehi katak dezempregu bele lakon, ka disiplina bele buras.

Nune’e, dalan diak liu atu ba hamenus dezempregu mak Timor-Leste tenke investe maka’as iha setór ekonomia sira poténsia no sustentável sira hanesan Investimentu iha indústria ki’ik sira, nune’e bele fasilita kriasaun kampu servisu ba joven sira ba tempu naruk, duke buka “korta dalan” atu rezolve problema sosiál ida liu hosi kriasaun programa ne’ebé la sustentável, ne’ebé sei fó naha todan ba finansa públiku. Partido polítiku sira labele haluha katak kriasaun kampu servisu, aumenta kapasidade joven sira, sempre mai husi investimentu diak no seriu iha setór edukasaun sira, espesialmente hahú halo formasaun hosi nivel ensinu báziku.

Aleinde ne’e, besik tinan-tinan, Timor-Leste enfrenta problema despeza rekurente ne’ebé sempre aumenta ba bei-beik. Entre 2014 to ohin loron, Governu nia despeza rekorente (esklui ZEESM no transferénsia ki’ik sira seluk, maibé sura de’it saláriu, bens e servisu no transferénsia veteranu de’it), to ona iha nivel liu tokon atus neen ho balu kada tinan, ka nivel ida ne’ebé liu ona Rendimentu Sustentável Estimativa Fundu Petrolíferu nian ne’ebé iha risku boot hodi fó ameasa atu halo mamuk Fundu Petrolíferu lalais liu tan.

Tuir planu Forsa 2020, Karik militár obrigatóriu ne’e hili duni, planu ida ne’e kontinua husu atu kria forsa defeza rai laran ida ne’ebé ho eskalaun ki’ik, ho farda, ransom maran, kilat musan no sasán seluk militár nian no nesesidade báziku militár nian ba iha treinamentu. Hosi ne’e, maske iha eskalaun ki’ik ita bele halo asumsaun katak despeza rekorente sei aumenta tan mínimu dolar tokon atus ida ho balu tan kada tinan ida. Polítika ida ne’ebé kontradikte ho kampaña PLP nian iha fatin-fatin katak Timor-Leste labele gasta liu Rendimentu Sustentável Estimativa Fundu Petrolíferu nian.

No ne’e la’ós ona segredu katak despeza militár ne’ebé maka’as, dala barak sei halo estadu atu bele kua tan nia prioridade ba setór naun militár sira hanesan edukasaun, saúde no seluk tan. Iha parte seluk, Timor-Leste enfrenta hela problema sustentabilidade finansa hafoin kampu mina-rai Bayu-Undan hahú menus no ba maran. No iha urjensia boot tebes atu kria polítika ekonomia ida ne’ebé bele substitui ekonomia mina-rai no mós presiza tebes atu buka dalan sira ne’ebé la fakar osan hanesan dékada ida kotuk ne’e. Infelizmente, militár obrigatóriu iha poténsia boot ne’ebé sei hadalan fakar osan boot liu tan. Obrigado (*Hakerek na’in servisu iha ONG La’o Hamutuk)

https://www.facebook.com/juvinal.inasio/posts/10210280541758010